Rektor Marsudi: Guru Besar Harus Memberi Manfaat yang Besar untuk Masyarakat
Rabu, 11 Desember 2024 - 16:40 WIB
loading...
A
A
A
Saat ini UP sendiri telah memiliki 33 guru besar dan tiga calon Guru Besar, sehingga total 36 orang. Meski demikian jumlah ini dinilai belum sesuai dengan proporsi jumlah dosen di UP yang berjumlah 398 orang. Menurut Rektor, agar memiliki impact yang berarti di masyarakat, proporsi jumlah Guru Besar dibanding jumlah dosen harus mencapai 20 persen.
"Dalam kampus harus ada budaya ilmiah unggul. Budaya ilmiah unggul bisa dibentuk kalau memiliki guru besar 20 persen. Kalau kurang, maka tidak terlalu memberi impact yang besar pada masyarakat," katanya.
Sehingga ia menargetkan dalam jangka waktu empat tahun ke depan, jumlah Guru Besar yang dimiliki UP bisa mencapai 72 orang. Untuk mencapainya, ungkap Rektor sejumlah program akselerasi dilakukan, salah satunya mendorong calon Guru Besar yang telah memenuhi syarat dipercepat.
"Apa yang kurang akan kita bantu, lalu kita dorong dosen muda untuk menaikkan jejak kepangkatannya. Kalau dosen dalam empat tahun tidak naik pangkatnya mungkin tidak cocok menjadi dosen tapi di tempat lain saja," ujarnya.
Rektor Marsudi menjelaskan Guru Besar pada dasarnya mempunyai tiga fungsi penting. Pertama Guru Besar adalah seorang yang memiliki kebebasan mimbar akademik. Ia memiliki kewenangan mengembangkan ilmu pengetahuan. Kedua, seorang Guru Besar juga memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dimiliki agar berguna bagi masyarakat, tidak hanya berhenti pada tulisan di jurnal tetapi diaplikasikan di masyarakat. Ketiga Guru Besar berarti harus bisa menjadi panutan bagi masyarakat.
Sementara itu Prof. Dede Lia dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Peran Teknologi Manufaktur dan Otomasi dalam Pengembangan Pembangkit Listrik Energi Baru dan Terbarukan menyatakan teknologi manufaktur dan otomasi memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan dan implementasi pembangkit listrik EBT, seiring dengan upaya mencari sumber energi yang bersih dan berkelanjutan.
Ia juga menyatakan potensi EBT di Indonesia sangat besar, namun pemanfaatannya baru 0,3% . Perkembangan teknologi manufaktur dan otomasi telah membuka peluang peningkatan efisiensi dan kinerja dari pembangkit listrik EBT, namun masih
banyak tantangan yang harus dihadapi.
"Dalam kampus harus ada budaya ilmiah unggul. Budaya ilmiah unggul bisa dibentuk kalau memiliki guru besar 20 persen. Kalau kurang, maka tidak terlalu memberi impact yang besar pada masyarakat," katanya.
Sehingga ia menargetkan dalam jangka waktu empat tahun ke depan, jumlah Guru Besar yang dimiliki UP bisa mencapai 72 orang. Untuk mencapainya, ungkap Rektor sejumlah program akselerasi dilakukan, salah satunya mendorong calon Guru Besar yang telah memenuhi syarat dipercepat.
"Apa yang kurang akan kita bantu, lalu kita dorong dosen muda untuk menaikkan jejak kepangkatannya. Kalau dosen dalam empat tahun tidak naik pangkatnya mungkin tidak cocok menjadi dosen tapi di tempat lain saja," ujarnya.
Rektor Marsudi menjelaskan Guru Besar pada dasarnya mempunyai tiga fungsi penting. Pertama Guru Besar adalah seorang yang memiliki kebebasan mimbar akademik. Ia memiliki kewenangan mengembangkan ilmu pengetahuan. Kedua, seorang Guru Besar juga memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dimiliki agar berguna bagi masyarakat, tidak hanya berhenti pada tulisan di jurnal tetapi diaplikasikan di masyarakat. Ketiga Guru Besar berarti harus bisa menjadi panutan bagi masyarakat.
Sementara itu Prof. Dede Lia dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Peran Teknologi Manufaktur dan Otomasi dalam Pengembangan Pembangkit Listrik Energi Baru dan Terbarukan menyatakan teknologi manufaktur dan otomasi memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan dan implementasi pembangkit listrik EBT, seiring dengan upaya mencari sumber energi yang bersih dan berkelanjutan.
Ia juga menyatakan potensi EBT di Indonesia sangat besar, namun pemanfaatannya baru 0,3% . Perkembangan teknologi manufaktur dan otomasi telah membuka peluang peningkatan efisiensi dan kinerja dari pembangkit listrik EBT, namun masih
banyak tantangan yang harus dihadapi.
Lihat Juga :