Jutaan Siswa Tak Terjangkau Kuota Internet Gratis
Rabu, 23 September 2020 - 08:01 WIB
loading...
A
A
A
Komisioner bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menuturkan, pihaknya mengapresiasi keputusan Kemendikbud soal alokasi anggaran Rp7,2 triliun untuk subsidi pulsa dan kuota internet selama empat bulan.
Retno menuturkan, pengumuman terbuka kepada publik terkait jumlah nomor ponsel, baik itu siswa, guru, dosen, dan mahasiswa yang terdaftar dan terisi pulsa wajib dilakukan. Hal itu ini penting agar Kemendikbud dapat melakukan diskresi dengan cara sisa anggaran dialihkan dan digunakan untuk memaksimalkan proses Belajar Dari Rumah (BDR) di semua daerah.
“Sisa anggaran dapat digunakan untuk pembelian fasilitas daring seperti gawai dan komputer tablet kepada pihak sekolah. Pihak sekolah nanti yang akan meminjamkan kepada siswa jika tidak memiliki gawai untuk belajar daring,” katanya kepada KORAN SINDO.
Selain itu, pemetaan juga diperlukan agar jika masih ada sisa anggaran Kemendikbud bisa mengalihkan untuk pengadaan alat-alat penguat sinyal pada wilayah yang sulit sinyal.
Layanan pembelajaran luar jaringan (luring) menurut dia juga membutuhkan dukungan anggaran pemerintah. Jika dilakukan pemetaan, maka masalah dan kebutuhan akan terlihat jelas. Dengan begitu, anggaran triliunan bisa dialokasikan untuk mengadakan apa yang kurang, tidak hanya pembelian gawai dan pengadaan jaringan internet, namun bisa pula mendukung transportasi untuk para guru kunjung. Juga, dukungan pada penyiapan infrastruktur sekolah dalam menghadapi pembelajaran tatap muka. (Baca juga: Suarez Murka karena Merasa Dibohongi Barcelona)
Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kemendikbud Evy Mulyani yang dikonfirmasi perihal data terbaru penerima bantuan kuota hasil verifikasi dan validasi tidak memberi jawaban rinci. “Saat ini terdapat 9,6 juta penerima,” ujarnya, menjawab pesan yang dikirimkan.
Sebelumnya Evy mengatakan, di masa PJJ ini, selain membantu pembelajaran dengan kuota data selama empat bulan yakni September hingga Desember, Kemendikbud juga telah menyediakan berbagai konten pembelajaran melalui program Belajar Dari Rumah (BDR) yang disiarkan di TVRI.
Diketahui, program tayangan ini menjadi satu di antara alternatif pembelajaran bagi siswa, guru, maupun orang tua, selama masa belajar di rumah di tengah wabah Covid-19. Program Belajar dari Rumah di TVRI diisi dengan berbagai tayangan edukasi seperti pembelajaran untuk jenjang PAUD hingga pendidikan menengah, tayangan bimbingan untuk orang tua dan guru, serta program kebudayaan.
Evy menerangkan, secara umum selalu ada tayangan baru di program BDR di TVRI. Dia menjelaskan, Kemendikbud saat ini masih dalam tahap perencanaan untuk melengkapi tayangan baru.
Tidak hanya melalui siaran televisi, lanjut Evy, Kemendikbud pun menyiarkan berbagai program-program pendidikan melalui Radio Edukasi. (Lihat videonya: Merasa Jenuh, Pasien Covid-19 di Kalteng Jebol Ruang Isolasi)
Selain itu, Evy menuturkan, Kemendikbud juga menyediakan berbagai modul pembelajaran yang tidak hanya disediakan untuk guru, namun juga disalurkan kepada orang tua dan siswa. (Neneng Zubaidah)
Retno menuturkan, pengumuman terbuka kepada publik terkait jumlah nomor ponsel, baik itu siswa, guru, dosen, dan mahasiswa yang terdaftar dan terisi pulsa wajib dilakukan. Hal itu ini penting agar Kemendikbud dapat melakukan diskresi dengan cara sisa anggaran dialihkan dan digunakan untuk memaksimalkan proses Belajar Dari Rumah (BDR) di semua daerah.
“Sisa anggaran dapat digunakan untuk pembelian fasilitas daring seperti gawai dan komputer tablet kepada pihak sekolah. Pihak sekolah nanti yang akan meminjamkan kepada siswa jika tidak memiliki gawai untuk belajar daring,” katanya kepada KORAN SINDO.
Selain itu, pemetaan juga diperlukan agar jika masih ada sisa anggaran Kemendikbud bisa mengalihkan untuk pengadaan alat-alat penguat sinyal pada wilayah yang sulit sinyal.
Layanan pembelajaran luar jaringan (luring) menurut dia juga membutuhkan dukungan anggaran pemerintah. Jika dilakukan pemetaan, maka masalah dan kebutuhan akan terlihat jelas. Dengan begitu, anggaran triliunan bisa dialokasikan untuk mengadakan apa yang kurang, tidak hanya pembelian gawai dan pengadaan jaringan internet, namun bisa pula mendukung transportasi untuk para guru kunjung. Juga, dukungan pada penyiapan infrastruktur sekolah dalam menghadapi pembelajaran tatap muka. (Baca juga: Suarez Murka karena Merasa Dibohongi Barcelona)
Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kemendikbud Evy Mulyani yang dikonfirmasi perihal data terbaru penerima bantuan kuota hasil verifikasi dan validasi tidak memberi jawaban rinci. “Saat ini terdapat 9,6 juta penerima,” ujarnya, menjawab pesan yang dikirimkan.
Sebelumnya Evy mengatakan, di masa PJJ ini, selain membantu pembelajaran dengan kuota data selama empat bulan yakni September hingga Desember, Kemendikbud juga telah menyediakan berbagai konten pembelajaran melalui program Belajar Dari Rumah (BDR) yang disiarkan di TVRI.
Diketahui, program tayangan ini menjadi satu di antara alternatif pembelajaran bagi siswa, guru, maupun orang tua, selama masa belajar di rumah di tengah wabah Covid-19. Program Belajar dari Rumah di TVRI diisi dengan berbagai tayangan edukasi seperti pembelajaran untuk jenjang PAUD hingga pendidikan menengah, tayangan bimbingan untuk orang tua dan guru, serta program kebudayaan.
Evy menerangkan, secara umum selalu ada tayangan baru di program BDR di TVRI. Dia menjelaskan, Kemendikbud saat ini masih dalam tahap perencanaan untuk melengkapi tayangan baru.
Tidak hanya melalui siaran televisi, lanjut Evy, Kemendikbud pun menyiarkan berbagai program-program pendidikan melalui Radio Edukasi. (Lihat videonya: Merasa Jenuh, Pasien Covid-19 di Kalteng Jebol Ruang Isolasi)
Selain itu, Evy menuturkan, Kemendikbud juga menyediakan berbagai modul pembelajaran yang tidak hanya disediakan untuk guru, namun juga disalurkan kepada orang tua dan siswa. (Neneng Zubaidah)
(ysw)
Lihat Juga :