FRI: Dunia Kampus dan Industri Masih Sering 'Berkonflik' soal Inovasi
Kamis, 12 November 2020 - 22:52 WIB
loading...
Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), Arif Satria. Foto/Dok/Humas IPB University
A
A
A
JAKARTA - Proses 'perkawinan' antara Perguruan Tinggi (PT) dengan industri yang saat ini tengah didorong pemerintah belum sepenuhnya berjalan. Salah satunya karena masih ditemukannya konflik di antara keduanya dalam proses membangun ekosistem dan iklim inovasi bersama.
Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), Arif Satria mengatakan, konflik antara perguruan tinggi dengan industri tersebut harus segera diselesaikan. Pemerintah diminta turun tangan dengan membentuk tim khusus menangani berbagai konflik antara kampus dengan industri. (Baca juga: Dihadapan Mahasiswa, Alumni IPB Ini Berkisah saat Jualan Kaset sampai Jadi Pejabat )
"Iya (perlu ada tim mediasi) dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dan ada dewan mediator yang bisa mediasi," kata Arif di Kemenko Pembangunan Manusia Kebudayaan (PMK), Jakarta, Kamis (12/11/2020).
Menurut Arif, saat ini kampus dan industri belum bisa menyatu sepenuhnya. Hal ini tak lepas dari munculnya banyak perbedaan prespektif inovasi di antara keduanya.
Dalam konflik itu misalnya, kerap terdengar jika inovator merasa satu produk inovasi yang dibuat telah cukup, namun industri masih merasa belum puas. Parahnya, adapula industri nakal yang hanya ingin membeli produk, padahal tujuan berinovasi adalah melakukan kolaborasi. (Baca juga: Ini Aplikasi Rancangan Mahasiswa ITS yang Banyak Raih Penghargaan )
"Jadi ini perlu ada mediasi. Saya mengusulkan pada pemerintah agar di salah satu ekosistem inovasi nasional itu ada lembaga inovasi yang secara nasional memediasi konflik antara kampus dengan industri," tambah Arif.
Apalagi, ke depan kampus akan membuka Science Techno Park (STP) untuk berinovasi. Dengan begitu akan semakin banyak inovasi kampus yang harus dihilirisasi kepada industri. "Sehingga, akan terjadi masalah-masalah di industri, misal masalah royalti, dan itu perlu mediator," sambungnya.
Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), Arif Satria mengatakan, konflik antara perguruan tinggi dengan industri tersebut harus segera diselesaikan. Pemerintah diminta turun tangan dengan membentuk tim khusus menangani berbagai konflik antara kampus dengan industri. (Baca juga: Dihadapan Mahasiswa, Alumni IPB Ini Berkisah saat Jualan Kaset sampai Jadi Pejabat )
"Iya (perlu ada tim mediasi) dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dan ada dewan mediator yang bisa mediasi," kata Arif di Kemenko Pembangunan Manusia Kebudayaan (PMK), Jakarta, Kamis (12/11/2020).
Menurut Arif, saat ini kampus dan industri belum bisa menyatu sepenuhnya. Hal ini tak lepas dari munculnya banyak perbedaan prespektif inovasi di antara keduanya.
Dalam konflik itu misalnya, kerap terdengar jika inovator merasa satu produk inovasi yang dibuat telah cukup, namun industri masih merasa belum puas. Parahnya, adapula industri nakal yang hanya ingin membeli produk, padahal tujuan berinovasi adalah melakukan kolaborasi. (Baca juga: Ini Aplikasi Rancangan Mahasiswa ITS yang Banyak Raih Penghargaan )
"Jadi ini perlu ada mediasi. Saya mengusulkan pada pemerintah agar di salah satu ekosistem inovasi nasional itu ada lembaga inovasi yang secara nasional memediasi konflik antara kampus dengan industri," tambah Arif.
Apalagi, ke depan kampus akan membuka Science Techno Park (STP) untuk berinovasi. Dengan begitu akan semakin banyak inovasi kampus yang harus dihilirisasi kepada industri. "Sehingga, akan terjadi masalah-masalah di industri, misal masalah royalti, dan itu perlu mediator," sambungnya.
Lihat Juga :