Ornamen Header
Lolos KRI 2020, Mahasiswa Untag Surabaya Ciptakan Robot Pasien COVID-19
Lolos KRI 2020, Mahasiswa Untag Surabaya Ciptakan Robot Pasien COVID-19
Mahasiswa Untag bersama robot pasien Covid-19. Foto/Ist
SURABAYA - Pandemi COVID-19 mendorong dunia akademisi berinovasi untuk terlibat dalam penanganan wabah Covid-19. Kali ini inovasi datang dari enam mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Mereka adalah Muhammad Choyrul Anam dari Fakultas Teknik dan lima mahasiswa Fakultas Vokasi Nugroho Dwi, Fuad Fuji Santoso, Astra Nico Prastyo, Dedi Wahyu Ashari dan Nazzun Fahmi Haryanto yang lolos ke babak final Kontes Robot Indonesia (KRI) 2020. Keenamnya tergabung dalam tim SIOLA dan menjadi satu dari 25 tim yang lolos dalam kategori Kontes Robot Tematik Indonesia. (Baca juga: 27 Kampus akan Adu Tanding di Kontes Mobil Hemat Energi )

Ketua Tim SIOLA, Muhammad Choyrul Anam, mengatakan robot yang diberi nama SIOLA itu dikerjakan hanya dalam lima minggu. "Awal September sampai minggu pertama November itu kami mulai membuat robot," katanya.

Robot yang dibuat dapat beroperasi dengan 3 baterai berdaya 12 volt dan dapat dioperasikan secara nirkabel, stik wireless untuk mengontrol robot.



“Robotnya sendiri kami rancang dengan tinggi 1.25 meter, lebar 65 cm dan panjang 85. Bisa menampung beban manusia maksimal 150 kg. Untuk daya sendiri, menggunakan baterai yang bisa dicas jadi tidak harus beli baterai terus,” terang mahasiswa semester 5 ini. (Baca juga: 9 PTN Peroleh Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2020 Kategori Informatif )

Ia menjelaakan, Kontes Robot Indonesia rutin digelar setiap tahunnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Namun karena ada pandemik Covid-19 kontes ini tetap dilakukan meski secara daring. Covid-19, merupakan tema yang diusung pada tahun ini.

"Jadi setiap tahun memang mengangkat isu hangat yang terjadi di Indonesia. Karena tentang Covid-19, panitia memberi tugas agar robot yang dibuat bisa memindahkan pasien positif Covid-19 dari satu ranjang ke ranjang lain tanpa adanya kontak fisik antara pasien dan tenaga medis. Semua tahapan penilaian, mulai seleksi sampai final kemarin, semuanya online.” jelas pria yang akrab disapa Anam.



Meski kontes secara daring, namun persiapan yang dilakukan matang dan kreatif. Terhitung mulai memasukkan proposal pada Agustus, dan diumumkannya pada Agustus juga, tim ini segera dengan sigap merakit robot.

“Sejak Agustus kami mendaftarkan proposal, diumumkan lolos pada 24 Agustus, kami mulai mempersiapkan dan merancang robot. Finalnya tanggal 20 November kemarin, ada tanya jawab dengan dewan juri. Nggak menyangka juga bisa lolos. Walaupun belum menjadi pemenang, tapi bangga bisa lolos ke nasional," ungkapnya.

Berbekal optimis dan bangga, mereka ingin terus membanggakan almamater dengan karya-karya kreatifitas robot dan berencana untuk ikut kompetisi robot lainnya dan tahun depan ingin ikut KRI
(mpw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!