Ornamen Header
Bangun Kompetensi dan Karakter Siswa, Mentari Group Gelar Pelajar Berkreasi
Bangun Kompetensi dan Karakter Siswa, Mentari Group Gelar Pelajar Berkreasi
Direktur Program Pelajar Berkreasi Natalina Rimba. FOTO/CAPTURE YOUTUBE
JAKARTA - Tantangan para pelajar di Indonesia semakin berat di masa pandemi COVID-19. Dalam setahun terakhir, mereka dipaksa mengubah pola belajarnya, dari tatap muka langsung di sekolah, menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui gawai.

CMO Mentari Group, Natalina Rimba mengungkapkan, hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018, menunjukkan bahwa pelajar Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara lain, yaitu berada di urutan ke-72 dari 79 negara. Menerutnya, tantangan semakin berat di masa pandemi ini karena pelajar rentan sekali kecanduan gawai. Bahkan, kata Natalina, Kemendikbud sendiri telah mengonfirmasi bahwa telaht terjadi learning loss selama pandemi.

"Padahal, survei BPS telah menyatakan populasi terbesar di Indonesia pada 2020 adalah Gen Z yang merupakan para pelajar. Artinya, mereka ini memiliki peranan besar untuk kemajuan Indonesia," kata Natalina dalam gelar wicara daring bertajuk 'Membangun Kompetensi dan Karakter Anak Sejak Dini, Jumat (17/4/2021). Acara ini diikuti lebih dari 400 peserta yang terdiri dari pimpinan sekolah, guru, dan orang tua.

Baca juga: Hentikan PJJ, Mendikbud Minta Sekolah Lakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Untuk menjawab tantangan pelajar Indonesia masa kini sekaligus menyediakan panggung bagi mereka, Mentari Group menggelar Pelajar Berkreasi. Program ini merupakan seri perlombaan yang mendukung pelajar di seluruh Indonesia untuk mengasah kemampuan literasi, numerasi, karakter, dan kreativitas.



"Pelajar Berkreasi diadakan pada Maret-Oktober 2021, dan akan menjadi kegiatan tahunan," kata Natalina yang menjabat sebagai Direktur Program Pelajar Berkreasi.

Ia menyampaikan bahwa Pelajar Berkreasi dirancang sesuai kebutuhan pelajar saat ini, yaitu menjawab tantangan Asesmen Kompetensi Minimum yang fokus pada literasi, numerasi, karakter. Kegiatan ini mendukung pelajar mengasah kemampuan nonteknis Abad 21, seperti berpikir kritis, berkolaborasi, berkreasi, berkomunikasi (dikenal dengan 4C), serta bernalar tingkat tinggi atau higher order thinking skill (HOTS).

Pelajar Berkreasi pun didukung oleh para tenaga ahli di bidangnya."Misalnya pada salah satu lomba, Mentari Mathematics Olympiad atau MEMO, yaitu lomba matematika dalam bahasa Inggris. Tim perancang soal memastikan pertanyaan-pertanyaan yang disajikan bersifat kontekstual dan tidak membuat pelajar sekadar mengandalkan rumus. Pelajar harus mampu memahami permasalahan pada soal dan mencari solusi dari permasalahan tersebut," kata Natalina.

Baca juga: Setahun PJJ, Siswi SMP: Kami Rindu Belajar di Sekolah Bersama Teman-teman

"Atau Lomba Koki Cilik. Pelajar dilatih untuk mampu memahami resep dan mengaplikasikannya. Mereka juga harus mampu mempresentasikan kepada juri mengenai cara memasak dan masakan yang dibuat. Ini kan sebenarnya melatih kemampuan 4C pelajar namun mereka tetap rileks dan senang menjalaninya," katanya.



Sementara itu, penulis ternama dan founder Kamar Kata-Kata, Reda Gaudiamo menyebutkan pentingnya peran orang tua dan sekolah untuk memberikan kompetensi utama dan mengembangkan karakter anak sejak usia dini. "Lebih mudah membangun anak-anak yang kuat dari pada memperbaiki para orang dewasa. Maka, lakukanlah sekarang," kata Reda.

Ia memaparkan beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan sekolah dalam meningkatkan kompetensi dan karakter anak. Berkaitan dengan hal ini, Reda mengafirmasi bahwa orang tua dan sekolah harus menyalurkan minat anak dengan berbagai kegiatan dan membuka jalan mereka untuk mencoba hal-hal baru yang bermanfaat.
(abd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!