Ornamen Header
Pakar Mikrobiota Usus: Diet Bisa Berdampak Negatif terhadap Kesehatan Mental
Pakar Mikrobiota Usus: Diet Bisa Berdampak Negatif terhadap Kesehatan Mental
Prof Dr Lukas Van Oudenhove, MD, PhD, pembicara webinar Power Talk i3L bertema The Microbiota Gut Brain Axis: Hype or Revolution?. Foto/Dok/Humas i3L
JAKARTA - Usus dalam tubuh manusia dilapisi oleh setidaknya 100 juta sel saraf yang sebagian besar terhubung dengan otak. Ia bisa berkomunikasi langsung dengan otak. Misalnya memberikan sinyal ketika merasa lapar, atau saat kenyang.

Gut Microbiota, atau mikrobiota usus, yang berisi triliunan mikroorganisme dengan sekitar 2000-3000 spesies yang berbeda serta total gen sekitar 150x lebih banyak dari gen manusia, memiliki peranan penting di dalam kesehatan tubuh .

Baca juga: Usia 24 Tahun, Diva Kurnianingtyas Doktor Termuda di Wisuda ITS

Perkembangan gut microbiota dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu diet (pola makan), genetik, umur, daerah, kebiasaan, aktivitas fisik, obat-obatan, dan faktor yang lain. Namun, di antara faktor-faktor ini, diet merupakan faktor utama.



Hal itu disampaikan Prof. Dr. Lukas Van Oudenhove, MD, PhD selaku pembicara rangkaian webinar Power Talk Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L) dengan tema “The Microbiota- Gut – Brain Axis: Hype or Revolution?”. Webinar yang digelar ini merupakan rangkaian kegiatan proyek kemanusiaan sebagai salah satu implementasi sustainable goals.

Microbiome usus berperan penting dalam fungsi fisiologis, di antaranya memfasilitasi metabolisme, membantu memperkuat stabilitas lapisan penghalang usus, memberikan nutrisi bagi sel usus, serta menghasilkan neurotransmitter.

Baca juga: Transisi, ITB Mulai Selenggarakan Perkuliahan Tatap Muka Terbatas

Lukas Van Oudenhove yang juga merupakan Associate Research Professor, Laboratory for Brain-Gut Axis Studies (LaBGAS), Katholieke Universiteit (KU) Leuven menyatakan bahwa stres dapat mengganggu hubungan yang biasanya stabil antara bakteri usus dan inangnya, sehingga menimbulkan inflamasi usus.

“Memberikan makanan dan minuman yang dikenal sebagai sumber probiotik penting untuk fungsi sistem imunitas tidak hanya mengatasi peradangan, tapi juga mengurangi perilaku terkait stress,” kata Lukas. Adapun makanan sumber probiotik misalnya, tempe, kimchi, Sauerkraut (fermentasi sayur), yoghurt dan lain sebagainya.
halaman ke-1
TULIS KOMENTAR ANDA!