Ornamen Header
163 Daerah Zona Kuning Bisa Sekolah Tatap Muka
163 Daerah Zona Kuning Bisa Sekolah Tatap Muka
Pemerintah sudah mulai membolehkan sekolah tatap muka di zona kuning dengan protokol kesehatan ketat. Foto/Dok/SINDOnews
JAKARTA - Pemerintah sudah mulai membolehkan sekolah tatap muka di zona kuning. BNPB mencatat ada 163 daerah di zona kuning yang sudah boleh membuka sekolah dengan protokol kesehatan ketat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan, berdasarkan data per 2 Agustus ada 163 daerah yang ditetapkan berstatus zona kuning. Dia menyatakan, 163 daerah ini yang nantinya akan bisa dilakukan kegiatan pembelajaran tatap muka. (Baca juga: Pemerintah Membolehkan Sekolah Tatap Muka di Zona Kuning)

Meski pemerintah pusat membolehkan, Doni menjelaskan, namun pola pembukaan sekolahnya hampir sama dengan pembukaan sekolah di zona hijau. "Keputusan untuk memulai sekolah tatap muka dikembalikan kepada daerah. Bupati, wali kota dan gubernur karena para pejabat itu yang paling tahu situasi di daerah masing-masing," katanya pada taklimat media Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19, secara virtual, di Jakarta, Jumat (7/8).

Dia mengatakan, setelah memasuki bulan kelima masa pandemi COVID-19 terlihat bahwa tidak semua wilayah secara nasional memiliki resiko yang sama. Kata dia, ada kabupaten kota yang resikonya tinggi, ada yang sedang, rendah dan bahkan ada 35 kabupaten kota yang sampai hari ini tidak terdampak virus Corona. (Baca juga: Kemendikbud Alokasikan Rp405 Miliar untuk Penanganan Covid-19)



"Sedangkan 51 kabupaten kota tidak ada kasus baru, angka kematian nol dan angka sembuh telah mencapai 100 %," ujarnya.

Untuk sekolah di zona hijau, katanya ada yang sudah memulai kegiatan belajar tatap muka. Namun, berdasarkan catatan Kemendikbud, tidak semua daerah yang telah diberikan kesempatan tatap muka mau melakukannya. Hal in karena keputusan belajar tatap muka dikembalikan kepada daerah dan juga pengelola sekolah dan juga orang tua.

Dia menyampaikan, ketika sekolah kembali dibuka maka segala resiko penyebaran harus bisa diminimalisir. Yakni dengan melakukan simulasi termasuk pemenuhan alat pendukung untuk mengurangi resiko. Lalu sosialisasi penggunaan masker, jaga jarak, tersedianya alat cuci tangan ataupun hand sanitizer dan alat pendukung lainnya.
(mpw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!