Ornamen Header
Cerita Inspiratif 2 Mahasiswi KKN yang Terjun ke Zona Merah untuk Edukasi Masyarakat
Cerita Inspiratif 2 Mahasiswi KKN yang Terjun ke Zona Merah untuk Edukasi Masyarakat
2 Mahasiswi, Rahmani Fadilah (tengah kiri) dan Hanifa Intan (tengah kanan) menceritakan pengalamannya saat menjalani KKN Tematik Covid-19. Foto/Neneng Zubaidah
JAKARTA - Anak muda kerap kali disebut kaum rebahan karena ketidakpeduliannya akan lingkungan sekitar di masa pandemi ini. Namun, melalui KKN Tematik Covid-19 ternyata banyak mahasiswa yang rela terjun ke lapangan demi mengubah perilaku masyarakat akan bahaya virus Corona ini.

Salah satunya adalah mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Hanifa Intan yang menceritakan pengalamanya terjun bersama sejumlah temannya ke Desa Sumber Jaya, Bekasi. Hanifa menuturkan, desa Sumber Jaya di pilih sebagai lokasi KKN karena termasuk salah satu zona merah di Bekasi. (Baca juga: Tingkatkan Mutu Pengabdian, UIN Bandung Latih 110 Dosen)

Bukannya takut tertular virus korona, Hanifah dan kawan-kawannya selama satu bulan lebih berjuang untuk memberikan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat agar mau menerapkan protokol kesehatan dilingkunganya.

"Karena kurang meratanya informasi dan penyuluhan menyebabkan desa ini masuk menjadi zona merah. Kami melakukan penyuluhan agar masyarakat sadar bahwa pandemi ini berbahaya," katanya pada talkshow usai peluncuran Buku pembelajaran Praktik Baik Edukasi Masyarakat melalui KKN Tematik Covid-19 melalui streaming Youtube BNPB, Rabu (28/10).



Hanifa mengungkapkan, desa yang menjadi lokasi pengabdiannya sebagai mahasiswa itu sangat luas. Tercatat ada 300 RT dan 58 RW. Meskipun dia mengakui bahwa luasnya wilayah menjadi salah satu kendala namun tidak menyurutkan tim KKNnya memberikan penyuluhan secara door to door agar lebih banyak warga desa yang teredukasi akan isu kesehatan dimasa pandemi ini. (Baca juga: Inspiratif, Mahasiswa UGM Juara Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional 2020)

Selain penyuluhan secara door to door mereka pun dibantu oleh kepala desa dan perwakilan RT dan RW untuk melakukan penyuluhan dalam rapat rutin yang digelar setiap Kamis. Menurutnya, kerja sama dengan perangkat desa setempat ini sangat membantu suksesnya penyuluhan yang dilakukan selama pandemi.

Bagi Hanifa, keikutsertaanya mengikuti KKN Tematik ini adalah karena adanya beban tanggung jawab moral sebagai mahasiswa yang memiliki intelektual untuk membagikan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat. Dia menitip pesan kepada anak muda lainnya, kalaupun tidak bisa turun ke lapangan maka anak muda bisa memaksimalkan media sosialnya untuk terus menyadarkan masyarakat akan pentingnya 3M dan juga protokol kesehatan.



Sementara, Rahmani Fadilah dan 11 temannya dari Akademi Kebidanan Sismadi Jakarta mengaku di kampusnya tidak ada program KKN tematik Covid-19. Mereka terjun atas dasar panggilan hati untuk menyadarkan masyarakat di Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara akan 3M sehingga mendaftarkan diri ke program KKN Tematik Covid-19 ini. Yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. (Baca juga: Juarai Asia Pasifik, ITB Melaju ke Final Huawei ICT Competition Tingkat Dunia)

Rahmani menuturkan, ada 500 kepala keluarga di kampung nelayan ini yang mayoritas profesi yang dijalani adalah nelayan dan buruh lepas yang mendulang uang dengan mengupas kerang. Rahmani terkejut ketika pertama kali datang ke kampung tersebut para warga yang mengupas kerang tidak memakai masker ataupun menjaga jarak.

"Maka kami setiap haripun mengingatkan masyarakat disana untuk selalu memakai masker. Kami juga melakukan pembagian masker, sabun untuk cuci tangan dan terus melakukan penyuluhan bahwa Covid-19 ini harus diberantas," ungkapnya.

Rahmani mengungkapkan, selain dibantu RT, RW dan pihak kelurahan timnya juga dibantu oleh para ibu-ibu PKK dalam melakukan penyuluhan. Menjelang akhir KKN, katanya, mereka ikut kegiatan pembagian masker yang dilaksanakan pihak RT dan RW sehingga memaksimalkan edukasi warga akan pentingnya 3M.
(mpw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!