Denny JA Luncurkan Buku The Power of Silence, Ceritakan Perjalanan Batin Melalui Lukisan
Senin, 30 Januari 2023 - 12:09 WIB
loading...
Denny JA merilis buku terbarunya berjudul The Power of Silence, 73 Lukisan Spiritual Denny JA pada Senin (30/1/2023). Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis buku terbarunya berjudul “The Power of Silence, 73 Lukisan Spiritual Denny JA” pada Senin (30/1/2023).
Berbeda dari buku-buku yang pernah ia tulis, karya terbarunya ini menceritakan perjalanan batinnya melalui lukisan. Bukan lukisan biasa, melainkan lukisan yang dibuat dengan bantuan Artificial intelligence (AI).
Baca juga: 10 Universitas dengan Jurusan Desain Grafis Terbaik Indonesia, Nomor 3 Ditempati Kampus Swasta
Denny JA yang merupakan Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena ini menceritakan bahwa pada musim panas di Museum Louvre, Perancis pada 2011, ia merasakan pengalaman yang berbeda, lantaran sinergi batinnya dengan suasana saat itu, bersentuhan dengan lukisan dunia, memberikannya pengalaman religius.
Pada saat itu, ia bahkan menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk di hadapan karya pelopor gerakan impresionis Perancis, Claude Monet (1840-1926). Lukisan itu adalah serial Water Lilies, Bunga Teratai.
“Di masa senjanya, Monet banyak melukis tema itu, Water Lilies. Para ahli memperkirakan, Monet membuat 250 lukisan untuk tema Water Lilies saja. Sebagian kecil dari karya asli Water Lilies itu dipajang di museum Louvre,” jelas Denny.
Bacas juga: 10 Universitas dengan Jurusan Desain Grafis Terbaik Indonesia, Nomor 3 Ditempati Kampus Swasta
Menurutnya, teratai dalam lukisan Monet itu begitu hening, bahkan ia terasa ringan, tenang, diam di atas air. Seolah ia mengajak siapapun yang memandangnya untuk merasakan keheningan yang sama, yang asli.
“Dalam hati saya berkata, alangkah senangnya jika saya bisa menumpahkan rasa hening di dalam batin saya ke dalam lukisan. Hanya dalam hitungan menit, pihak lain yang sensitif akan cepat ikut tertular merasakan keheningan yang sama melalui lukisan itu,” papar Denny.
Namun untuk melakukan hal itu, diperlukan kemampuan menguasai teknik melukis yang memadai. Denny memperkirakan bahwa untuk bisa memiliki kemampuan itu, setidaknya ia perlu berlatih melukis secara intens selama 10 tahun.
Hal itulah yang kemudian membuat Denny melupakan gagasan untuk mengekspresikan keheningan melalui lukisan. Perhatiannya pun sibuk teralihkan oleh kegiatan lain.
Namun 11 tahun kemudian, momen dan gagasan tersebut datang kembali. Pada 2022, saat dunia telah berubah begitu pesat dan Artificial Intelligence (AI) sudah masuk lebih intens dalam kehidupan sehari-hari, Denny pun berkenalan dengan banyak aplikasi lukisan. Beberapa di antaranya menggunakan AI.
Pada periode Oktober-November 2022, Denny pun intens menggabungkan 4 hingga 5 aplikasi lukisan dengan AI, agar saling melengkapi. Trial and error pun ia jalani.
“Tapi ternyata, sehebat-hebatnya satu aplikasi lukisan, walau ia berisi Artificial Intelligence sekalipun, tetap tak bisa memuaskan apa yang saya ingin,” tulis Denny.
Berbeda dari buku-buku yang pernah ia tulis, karya terbarunya ini menceritakan perjalanan batinnya melalui lukisan. Bukan lukisan biasa, melainkan lukisan yang dibuat dengan bantuan Artificial intelligence (AI).
Baca juga: 10 Universitas dengan Jurusan Desain Grafis Terbaik Indonesia, Nomor 3 Ditempati Kampus Swasta
Denny JA yang merupakan Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena ini menceritakan bahwa pada musim panas di Museum Louvre, Perancis pada 2011, ia merasakan pengalaman yang berbeda, lantaran sinergi batinnya dengan suasana saat itu, bersentuhan dengan lukisan dunia, memberikannya pengalaman religius.
Pada saat itu, ia bahkan menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk di hadapan karya pelopor gerakan impresionis Perancis, Claude Monet (1840-1926). Lukisan itu adalah serial Water Lilies, Bunga Teratai.
“Di masa senjanya, Monet banyak melukis tema itu, Water Lilies. Para ahli memperkirakan, Monet membuat 250 lukisan untuk tema Water Lilies saja. Sebagian kecil dari karya asli Water Lilies itu dipajang di museum Louvre,” jelas Denny.
Bacas juga: 10 Universitas dengan Jurusan Desain Grafis Terbaik Indonesia, Nomor 3 Ditempati Kampus Swasta
Menurutnya, teratai dalam lukisan Monet itu begitu hening, bahkan ia terasa ringan, tenang, diam di atas air. Seolah ia mengajak siapapun yang memandangnya untuk merasakan keheningan yang sama, yang asli.
“Dalam hati saya berkata, alangkah senangnya jika saya bisa menumpahkan rasa hening di dalam batin saya ke dalam lukisan. Hanya dalam hitungan menit, pihak lain yang sensitif akan cepat ikut tertular merasakan keheningan yang sama melalui lukisan itu,” papar Denny.
Namun untuk melakukan hal itu, diperlukan kemampuan menguasai teknik melukis yang memadai. Denny memperkirakan bahwa untuk bisa memiliki kemampuan itu, setidaknya ia perlu berlatih melukis secara intens selama 10 tahun.
Hal itulah yang kemudian membuat Denny melupakan gagasan untuk mengekspresikan keheningan melalui lukisan. Perhatiannya pun sibuk teralihkan oleh kegiatan lain.
Namun 11 tahun kemudian, momen dan gagasan tersebut datang kembali. Pada 2022, saat dunia telah berubah begitu pesat dan Artificial Intelligence (AI) sudah masuk lebih intens dalam kehidupan sehari-hari, Denny pun berkenalan dengan banyak aplikasi lukisan. Beberapa di antaranya menggunakan AI.
Pada periode Oktober-November 2022, Denny pun intens menggabungkan 4 hingga 5 aplikasi lukisan dengan AI, agar saling melengkapi. Trial and error pun ia jalani.
“Tapi ternyata, sehebat-hebatnya satu aplikasi lukisan, walau ia berisi Artificial Intelligence sekalipun, tetap tak bisa memuaskan apa yang saya ingin,” tulis Denny.
Lihat Juga :