Fahri Hamzah: Lapor Mas Menteri, PJJ Memiliki Banyak Ekses Negatif
Jum'at, 31 Juli 2020 - 12:24 WIB
loading...
Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah menilai sekolah mandiri atau PJJ di tengah pandemi COVID-19 memiliki ekses atau dampak negatif bagi perkembangan kepribadian anak secara luas. Foto/SINDOphoto
A
A
A
JAKARTA - Sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus menuai kritikan. Kali ini, kritikan dari Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia , Fahri Hamzah.
Fahri menilai sekolah mandiri atau PJJ di tengah pandemi COVID-19 memiliki ekses atau dampak negatif bagi perkembangan kepribadian anak secara luas. Akibatnya anak menjadi lupa waktu, lebih suka bermain game dan media sosial (medsos) ketimbang fokus belajar secara mandiri, meskipun sudah dibimbing oleh orang tua di rumah. (Baca juga: Ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha, Jokowi: Semoga Ujian Pandemi Ini Segera Berlalu)
Adapun ekses negatif lainnya, menjadi kurang menghormati norma-norma agama. "Lapor Mas Menteri! (Mendikbud Nadiem Makarim -red), kemarin numpang sholat di rumah saudara sekitar jam 22.00 malam. Di samping saya sholat, ada 3 anak kecil sedang bermain gadget, 1 nonton YouTube, 1 main game, 1 lagi main Tiktok dengan HP ibunya dan bapaknya yang terbiasa dipakai sekolah," kicau Fahri Hamzah di akun Twitternya, Kamis (30/7/2020).
Fahri Hamzah dalam keterangannya, Jumat (31/7/2020), menegaskan untuk melakukan sekolah mandiri ini tidak semua memiliki akses jaringan, gawai maupun paket data. Apabila orang tua siswa adalah seorang yang berkecukupan, tentu hal itu tidak menjadi masalah karena kebutuhan anak mereka akan dipenuhi.
Sementara yang miskin akses bisa frustrasi, tidak bisa berbuat apa-apa, guru dan kelas mereka menjadi tidak terjangkau. Bahkan bagi anak yang kaya akses dan paket data pun, juga bisa membuat mereka menjadi penghuni dunia maya yang palsu, hidup menonton layar kaca (tanpa pengawasan) yang bisa merusak mata, otak dan hati.
Fahri menilai sekolah mandiri atau PJJ di tengah pandemi COVID-19 memiliki ekses atau dampak negatif bagi perkembangan kepribadian anak secara luas. Akibatnya anak menjadi lupa waktu, lebih suka bermain game dan media sosial (medsos) ketimbang fokus belajar secara mandiri, meskipun sudah dibimbing oleh orang tua di rumah. (Baca juga: Ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha, Jokowi: Semoga Ujian Pandemi Ini Segera Berlalu)
Adapun ekses negatif lainnya, menjadi kurang menghormati norma-norma agama. "Lapor Mas Menteri! (Mendikbud Nadiem Makarim -red), kemarin numpang sholat di rumah saudara sekitar jam 22.00 malam. Di samping saya sholat, ada 3 anak kecil sedang bermain gadget, 1 nonton YouTube, 1 main game, 1 lagi main Tiktok dengan HP ibunya dan bapaknya yang terbiasa dipakai sekolah," kicau Fahri Hamzah di akun Twitternya, Kamis (30/7/2020).
Fahri Hamzah dalam keterangannya, Jumat (31/7/2020), menegaskan untuk melakukan sekolah mandiri ini tidak semua memiliki akses jaringan, gawai maupun paket data. Apabila orang tua siswa adalah seorang yang berkecukupan, tentu hal itu tidak menjadi masalah karena kebutuhan anak mereka akan dipenuhi.
Sementara yang miskin akses bisa frustrasi, tidak bisa berbuat apa-apa, guru dan kelas mereka menjadi tidak terjangkau. Bahkan bagi anak yang kaya akses dan paket data pun, juga bisa membuat mereka menjadi penghuni dunia maya yang palsu, hidup menonton layar kaca (tanpa pengawasan) yang bisa merusak mata, otak dan hati.
Lihat Juga :