Ornamen Header
Ini Kewajiban Siswa Sebelum Ikut Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah
Ini Kewajiban Siswa Sebelum Ikut Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah
Kepala Sekolah SMKN 15 Jakarta, Prihatin Gendra Priyadi di lokasi, Rabu (7/4). Foto/Ari Sandita
JAKARTA - Salah satu sekolah yang melakukan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka adalah SMKN 15 Jakarta, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (7/4) ini. Ada syarat sebelum siswa tersebut mengikuti kegiatan belajar secara tatap muka .

"Salah satu ketentuan wajib itu anaknya mau dan orangtuanya memberikan izin, jadi kalau anaknya mau tapi orangtuanya belum mengizinkan, maka dia tak boleh ikut luring, jadi dia harus tetap daring belajar di rumah," ujar Kepala Sekolah SMKN 15 Jakarta, Prihatin Gendra Priyadi di lokasi, Rabu (7/4/2021).

Baca juga: Pertama Masuk Sekolah Tatap Muka, Medina: Saya Senang Meski Canggung di Kelas

Menurutnya, total ada 468 siswa dengan 19 kelas dan 4 program keahlian di sekolahnya itu, tapi pada uji coba kegiatan belajar-mengajar tatap muka ini hanya 114 siswa saja yang mengikuti kegiatan tersebut perharinya. Adapun siswa yang mengikuti kegiatan tersebut berasal dari kelas 10 dan 12, sedangkan kelas 11 tidak karena mereka tengan melakukan prakerin atau PKL.

"Ada 8 kelas yang lagi uji coba, tiap kelas beda-beda jumlahnya, kelas 10 misalnya ada 36 siswa, di bagi 2 yang satu 18 satu lagi 17. Kalau kelas 12 ada yang 10 atau 9 siswa," tuturnya.



Dia menerangkan, kelas 12 melakukan uji coba tatap muka guna menghadapi ujian dan yang paling bahagian itu kelas 10. Sebabnya, selama masuk ke SMKN 15 Jakarta, baru kali ini mereka datang ke sekolah, sebelumnya mereka hanya mengikuti kelas secara daring.

Baca juga: Perketat Prokes, SDN 3 Palmerah Jakbar Gelar Simulasi Pembelajaran Tatap Muka

"Kelas 10 karena dia senang sudah setahun tapi belum pernah datang ke SMKN 15, mereka juga sudah sering chatingan tapi belum pernah ketemu sehingga ini juga dipakai untuk berkomunikasi sesama temannya tapi tetep protkesnya," jelasnya.

Dia mengungkapkan, mayoritas orangtuanya mengizinkan anaknya mengikuti kegiatan belajar secara tatap muka meskipun ada beberapa yang belum mengizinkan. Alasannya, baik si siswa itu sedang kurang sehat, orangtuanya yang tak sehat, ada pihak keluarga yang kemungkinan terpapar ataupun di lingkungannya ada yang terpapar Covid.

"Sebelum Piloting dilaksanakan, kami ada diklat yang namanya blended, mengantisipasi kalau ada siswa kami yang tak bisa hadir di sekolah, mereka harus tetap belajar di rumah bisa saja karena kondisinya tak memungkinkan atau mungkin karena tak bisa datang dengan alasan yang lain. Jadi bapak ibu guru harus siap menangani di dua kondisi, kondisi luring dan daring," paparnya.



Dia mengungkapkan, SMKN 15 Jakarta dilaksanakan uji coba tatap muka karena lulus seleksi dari pihak terkait, baik dari segi persetujuan dari orangtua ataupun persiapan siswanya, termasuk fasilutas dan infrastruktur yang ada di sekolah. Pihak sekolah juga menyiapkan dua bus sekolah untuk menjemput siswanya mengantisipasi orangtua tak bisa mengantar jemput anaknya.

"Kami juga menyiapkan ruang isolasi mengantisipsi saat dicek suhu lebih dari 37.5 derajat akan diisolasi dahulu, tapi sejauh ini di hari pertama ini tak ada. Karena kami juga sudah sepakat dengan orangtua siswa kalau di rumah ada yang sedang tak sehat sehingga di rumah dahulu untuk si anak," katanya.
(mpw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!