Tingkatkan Ekosistem Penelitian, Unika Atma Jaya Kukuhkan 2 Profesor Baru
Senin, 05 Desember 2022 - 14:13 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: 7 Jurusan Kuliah yang Lulusannya Dibutuhkan di Bank Indonesia dan Bergaji Tinggi
Orasi ilmiah pertama dipresentasikan oleh Dr. Weli, yang mengangkat tentang Kurikulum Sistem Informasi Akuntansi dalam Era Smart Society 5.0 Untuk Akuntan Profesional berkelanjutan. Dalam penelitian Prof. Dr. Weli di bidang ilmu ekonomi isu disrupsi profesi akuntan yang diprediksi akibat Transformasi digital pada era Revolusi Industri 4.0, sebenarnya merupakan peluang yang besar bagi seluruh insan pendidikan akuntansi. Kemajuan teknologi seharusnya membuat akuntan menjadi lebih mampu memenuhi keinginannya dalam bekerja.
Dalam presentasinya, perangkat teknologi informasi terkini memampukan pekerjaan akuntan tradisional yang kompleks menjadi lebih mudah dikerjakan bahkan mampu diselesaikan dalam waktu lebih cepat. Oleh karena itu calon akuntan perlu memiliki kompetensi knowledge dan skill teknologi digital, serta attitude dan value agar dapat bersinergi dalam era Smart Society 5.0.
“Setiap mahasiswa akuntansi dipersiapkan untuk memiliki potensi sebagai pusat inovasi yang memanfaatkan teknologi demi mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat dengan Smart Society 5.0. Oleh karenanya perlu softskill yang mengimbangi hardskill mahasiswa akuntansi, yaitu: kemampuan untuk kolaborasi, kemampuan presentasi, diskusi dan mempertahankan pandangannya, attitude yang baik, kepemimpinan, fleksible, dan kemampuan untuk memecahkan masalah serta membangun argumen,” ungkap Dr. Weli.
Persiapan untuk mencapai Akuntan Profesional adalah melalui Disain Kurikulum Akuntansi yang dapat mengatasi pergeseran paradigma era revolusi industry 4.0 dan Socitey 5.0. Namun demikian beberapa pihak perlu terlibat, misalnya dengan institusi pendidikan akuntansi, regulator khususnya departemen pendidikan, asosiasi profesi akuntansi, dan menyelaraskan tujuan dari Society 5.0 yang menempatkan manusia sebagai pusat inovasi.
Orasi ilmiah selanjutnya dibawakan oleh Prof. Dr. Clara mengenai pendidikan untuk anak marjinal yang tidak memarjinalkan. Apa yang terjadi pada zaman ini dimana kenyataannya karena kemiskinan keluarga, tidak semua anak dapat tepenuhi haknya di bidang pendidikan. Masih banyak anak usia sekolah yang tidak sekolah. Jumlah anak laki-laki yang tidak sekolah lebih banyak daripada anak perempuan. Hal ini karena anak laki-laki dari keluarga miskin seringkali sudah dilibatkan dalam kegiatan ekonomi untuk membantu menunjang kehidupan keluarga.
Orasi ilmiah pertama dipresentasikan oleh Dr. Weli, yang mengangkat tentang Kurikulum Sistem Informasi Akuntansi dalam Era Smart Society 5.0 Untuk Akuntan Profesional berkelanjutan. Dalam penelitian Prof. Dr. Weli di bidang ilmu ekonomi isu disrupsi profesi akuntan yang diprediksi akibat Transformasi digital pada era Revolusi Industri 4.0, sebenarnya merupakan peluang yang besar bagi seluruh insan pendidikan akuntansi. Kemajuan teknologi seharusnya membuat akuntan menjadi lebih mampu memenuhi keinginannya dalam bekerja.
Dalam presentasinya, perangkat teknologi informasi terkini memampukan pekerjaan akuntan tradisional yang kompleks menjadi lebih mudah dikerjakan bahkan mampu diselesaikan dalam waktu lebih cepat. Oleh karena itu calon akuntan perlu memiliki kompetensi knowledge dan skill teknologi digital, serta attitude dan value agar dapat bersinergi dalam era Smart Society 5.0.
“Setiap mahasiswa akuntansi dipersiapkan untuk memiliki potensi sebagai pusat inovasi yang memanfaatkan teknologi demi mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat dengan Smart Society 5.0. Oleh karenanya perlu softskill yang mengimbangi hardskill mahasiswa akuntansi, yaitu: kemampuan untuk kolaborasi, kemampuan presentasi, diskusi dan mempertahankan pandangannya, attitude yang baik, kepemimpinan, fleksible, dan kemampuan untuk memecahkan masalah serta membangun argumen,” ungkap Dr. Weli.
Persiapan untuk mencapai Akuntan Profesional adalah melalui Disain Kurikulum Akuntansi yang dapat mengatasi pergeseran paradigma era revolusi industry 4.0 dan Socitey 5.0. Namun demikian beberapa pihak perlu terlibat, misalnya dengan institusi pendidikan akuntansi, regulator khususnya departemen pendidikan, asosiasi profesi akuntansi, dan menyelaraskan tujuan dari Society 5.0 yang menempatkan manusia sebagai pusat inovasi.
Orasi ilmiah selanjutnya dibawakan oleh Prof. Dr. Clara mengenai pendidikan untuk anak marjinal yang tidak memarjinalkan. Apa yang terjadi pada zaman ini dimana kenyataannya karena kemiskinan keluarga, tidak semua anak dapat tepenuhi haknya di bidang pendidikan. Masih banyak anak usia sekolah yang tidak sekolah. Jumlah anak laki-laki yang tidak sekolah lebih banyak daripada anak perempuan. Hal ini karena anak laki-laki dari keluarga miskin seringkali sudah dilibatkan dalam kegiatan ekonomi untuk membantu menunjang kehidupan keluarga.
Lihat Juga :